• Home
  • About
  • Ruang Bincang
    • Let Me Tell You
    • Ruang Bincang Santai
    • Review
  • Menolak Lupa
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

JURNAL MAHYA


Photo by  Chuko Cribb   On Unsplash

Kita adalah sepasang yang sama-sama kesepian. Barangkali lebih tepatnya, sepasang dengan penuh kesunyian.

Kita mungkin kehilangan malam yang penuh hingar bingar sebab asyik merenung dipojok kamar. Nyatanya terangnya malam dan ramainya kota, kini mulai redup cahayanya. Itulah mengapa, aku dan dia tak kemana-mana. Lagipula semua orang dihimbau untuk tinggal di rumah aja, sebab dunia kini sedang tak baik-baik saja. 

Tentang kesepian yang telah kita lewati dengan puluhan senja tanpa romansa, terpasung dingin diujung hening di kamar masing-masing. Mencoba menerjemahkan sunyi, ternyata kita hanyalah sepasang kesepian yang enggan berhenti bernyanyi untuk sembunyikan sepi. Atau mungkin, sepasang kesepian yang sengaja mengeraskan suara tawa tuk sembunyikan luka. Ah mungkin juga, sepasang kesepian yang menyimpan rapat kenangan dipojok jendela kamar.

Aku tahu, kita hanya sepasang yang kesepian—tanpa saling memberi perhatian. Sejak menyadari itu, kini aku mulai belajar untuk memelihara kesepianku dengan baik. Sebab tak ada yang bisa diharapkan dari dua orang, lebih tepatnya sepasang kesepian ini. Mereka sama-sama kesepian, saling bersembunyi dan saling menyembunyikan perasaan.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

     


Akhir-akhir ini beberapa teman datang menghubungiku untuk menumpahkan kekesalan dan kegalauan atas drama-drama dibabak baru kehidupan — usia dua puluhan. Bukannya aku gak sibuk, hanya saja saat ini aku memiliki waktu luang yang sedikit lebih banyak dari mereka.

Aku selalu senang saat mereka datang bertukar cerita atau bahkan hanya sekadar bertukar kabar. Aku selalu siap pasang telinga mendengar setiap kisah yang mereka bagikan. Hingga akhirnya aku mendapat pelajaran bahwa kadang dibalik kehidupan mereka "yang kita anggap senang" sebenarnya banyak hal yang mereka keluhkan. Hanya saja mereka enggan membagikan, semampunya mereka tutupi di belakang layar.

Topik yang kita keluhkan diusia sekarang ternyata cukup melelahkan. Masalah kerjaan dan anak turunannya yang bikin geleng-geleng kepala. Dengerin drama-drama di tempat kerja yang membuka mata tentang realita. Mulai melatih mental supaya kebal terhadap beberapa omongan tetangga — Barangkali begitulah gambaran garis besar yang sering kami perbincangkan diwaktu luang (dijauh-jauh hari sebelum deadline datang). 

Beberapa dari mereka bilang, "perasaan aku terus yang curhat, nanti giliran kamu yang curhat deh. Eh kamu mah gak ada masalah kali yaa.."

Mereka berasumsi, aku yang selow dan terlihat kalem ini tampaknya tak memiliki permasalahan. Lebih tepatnya sejauh ini — "terlihat baik-baik saja."

Terlihat baik-baik saja. Bukan berarti aku tak memiliki masalah dalam hidup. Terkadang dalam beberapa keadaan, akupun ingin menumpahkan kegelisahan yang aku rasakan. Namun lagi dan lagi, banyak hal yang harus aku pertimbangkan. Aku harus memilah dulu mana topik yang pantas aku bagikan atau mana yang sebaiknya aku simpan. Selain itu, aku pribadi lebih nyaman curhat secara tatap muka sebab topik yang dibahas akan mengalir secara deras dan juga tentunya terasa melegakan.

Perihal aku yang terlihat seolah baik-baik saja, dibaliknya aku insomnia. Menulis disetiap jam-jam yang penuh overthinking. Mengumpulkan begitu banyak amunisi yaitu cokelat.

Perihal aku yang terlihat seolah baik-baik saja, mungkin kelihatannya aku sedang berpura-pura. Lagipula hidup adalah panggung sandiwara, yang terlihat bahagia mungkin saja didalamnya ia sedang membalut luka.





Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 


Photo by XPS On Unsplash


Setiap hari begelut dengan angka-angka — yang angka nolnya berjejer rapi berbaris kebelakang, enak dipandang. Menggiurkan, memang. Apalagi jika semua pundi-pundi masuk ke kantong pribadi. Tentu kamu bebas memesan kopi, tanpa perhitungan, tanpa harus menunggu sebulan sekali.

Aku berusaha untuk tidak begitu diperbudak oleh angka, karena dia fana. Bayangkan saja, gaji yang datang di awal bulan, nyatanya mampir hanya sebentar. Selebihnya menguap, terampas biaya bulanan, uang kosan, uang makan. Karena biaya kuliah mahal — sisanya dikirim untuk ibu di kampung halaman.

Bicara soal angka, kepuasan tak akan pernah ada habisnya. Ngikutin tuntutan gaya hidup hanya demi gengsi malah mengundang bayang-bayang lelah yang kian panjang membentang. Alih-alih menyusuri rasa yang bernama puas, kelak ia benar-benar tak bertepi dan tak memiliki sebuah batas. Bahkan sesekali puas berubah menjadi buas, ia akan memusnahkan ketenangan dan kesenangan dalam relung batinmu.

Aku hanya ingin berseru, semoga diri tak dibutakan oleh silaunya sang angka. Tanpa saling mengikat akrab, yang bisa membuatku semakin terjerat. Aku tak ingin berseteru, sikut-menyikut untuk saling menjatuhkan. Tanpa ada yang dibutakan, hingga akhirnya kau benar-benar dipergunakan sesuai yang manusia butuhkan — bermanfaat, bukan atas dasar keegoisan ataupun keserakahan.

— Jkt, (sedang Idealis)

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Photo by  Liam Martens


“Time was passing like a hand waving from a train I wanted to be on. I hope you never have to think about anything as much as I think about you.”― jonathan safran foer

Aku bingung dengan perasaanku — Aku mencoba mendekat, namun aku takut kita semakin erat.  Aku mencoba menghindar, tapi aku masih tak sanggup jika kamu tak berkabar. Aku masih takut jika akhirnya kamu meminta kita saling terikat. Tapi aku pun tak sanggup jika akhirnya kita harus berjarak.

Bukannya aku enggan menatap mata. Hanya saja aku takut, jika akhirnya tatapanmu membuat perasaanku menetap. Sungguh, ada rasa bersalah selalu bersikap dingin kepadamu. Padahal guyonanmu, selalu membuatku tertawa lupa waktu. Caramu diam-diam memperhatikanku. Dan caraku diam-diam tak melihatmu. 

Maaf, memang aku sedingin itu. Hanya saja ada banyak ketakukan dalam benakku. Aku belum benar-benar siap dengan hal itu. Dan jika tak nyaman silahkan menghilang. Jika terganggu silahkan lupakan. Sebelum menjadi sebuah penyesalan — dan berakhir dengan kekecewaan. Jalanilah hidupmu seakan-akan aku tak pernah hadir di hidupmu.

Bukankah hidup harus terus berjalan?
Meski perasaan terkadang perlu kita abaikan. 
Bahkan perlahan-lahan perlu kita hilangkan.

( Jangan menduga ini kisah siapa )





Share
Tweet
Pin
Share
No komentar




Photo by  Nguyen Dang Hoang Nhu

Kita adalah sepasang yang benar-benar asing. Barangkali lebih tepatnya, sepasang dengan penuh kemasing-masingan. Meski jarak kita berdekatan. Tapi kita tak pernah saling mengenal, bertatapan, berpapasan atau bahkan berusaha memulai percakapan.

Kita mungkin hanya terperangkap dalam sebuah tempat yang benar-benar dekat. Namun jarak tidak menjadikan alasan untuk kita saling akrab.
    
Menjadi sepasang asing, ia tak akan meninggalkanmu jejak atau bahkan sepenggal kenangan yang membekas. Tapi satu-satunya yang tidak akan menghilang dari ingatan yaitu suara dan irama, bahkan mungkin beberapa cerita yang menguap lewat udara yang tak sengaja masuk lewat telinga.

Aku tahu, kita sedang sama-sama singgah. Itulah sebabnya, aku tak pernah terpikirkan untuk mengakhiri cerita dalam keterasingan. Sebab aku paham, akan menjadi terlalu rumit bagi kita memikirkan arah perahu ini berlayar. Kita yang masih kebingungan mencari tempat untuk berlabuh, terombang-ambing ombak yang tak tahu arah maupun tujuan.

Sesekali kita terdampar di sebuah daratan, atau bahkan kebingungan di tengah lautan. Berusaha melintasi dan mempelajari apa yang semesta beri. 

Apapun itu, kita sedang berjuang untuk menemukan sebuah rumah sebagai tempat untuk tinggal, merangkulmu, menghangatkanmu, menyambutmu hingga akhirnya menjadi tempat menautkan hati — sebagai pelabuhan akhir dari perjalanan para pengelana ini.

Kapankah Kita Berlabuh

Ebiet G. Ade
Bahtera ini kecil,
Gampang terbawa angin
Sekelompok batu karang siap meremukkan
Kapankah kita ‘kan berlabuh?

Kapankah kita ‘kan bertemu
Laut yang bening dan biru,
Kembang warna warni,
Desis ikan bernyanyi
Tembang manis, teramat manis

Kapankah kita ‘kan berlabuh
Rinduku menggumpal di pantai
Jangan hanya diam
Mari kita berdoa
Berhembuslah angin ke sana









Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Photo by  Azka Rayhansyah On Unsplash


Berbisik lirih di ujung malam. Ditemani diam. 
Perasaan kian berkecamuk setelah senja mulai menutup hari. Menggenggam serpihan, menahan kesedihan. 

“Kamu berubah, egois.” 

Kira-kira begitu, kekecewaan yang akan dilontarkannya kepadaku. Harapnya aku senantiasa setia, ditemani manis pikir menanti. Pikirnya aku baik-baik saja sepanjang bintang masih terang. Padahal rintihan panjang yang dikeluhkan hanya ditemani rembulan. Sisanya, kamu menghilang.
Suatu saat kamu datang. Aku biarkan. Kamu merasa terabaikan. 
Kamu tahu? Garis waktu selalu merangkak maju. Kita yang sama-sama sibuk sendiri, selalu punya alasan waktu habis dengan urusan kita masing-masing. Sama-sama ego, gengsi. Malas mengemis iba dari salah satunya — Gengsi akan dikesampingkan dengan satu pengecualian, “aku butuh bantuan”.
Tentu saja aku berkenan membantumu, kecuali perihal perasaan. Maaf aku tak bisa bantu kamu lagi. Sebab beberapa luka, membuatku ingin melangkah lebih jauh. Biarkan aku melepaskanmu. Biar malamku tak lagi sunyi, tak lagi begitu menyiksa sebab ia terselimuti luka.
Saat aku yang menyerah, mohon jangan berpikir aku yang merusak jalan ceritanya. Kamu tak bisa memaksa seseorang yang telah lelah menerka-nerka, sebab banyak hal yang kau sembunyikan sejak lama.
Untuk kali ini, maka biarkanlah. Biarkan aku memilih jalan. Memutuskan tujuan. Biarkan aku melanjutkan kehidupan.
(Biarkan, permainan peran “para pemeran”)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Photo by Al Furqan 


selepas hujan reda
seseorang yang tak diundang
menerobos malam hanya untuk mengirimku pesan

kosongnya ruang sambutan
membelokkan sapaan,
tak ada persetujuan “jika kau berkenan”
menyuruhku membentuk kesan

aku tak sependapat dengannya
akan terasa tak nyaman
memaksakan arah berubah haluan 
mengorbankan perihal sesuatu yang “aku suka”
sebab kebahagiaan atas dirinya, mewah harganya

tawaranmu mungkin memanjakan isi kepalamu
tapi bagiku malah mengerucut menjadi bayangan buram

lagi pula yang aku lakukan tidak merugikanmu-
apa salahnya aku tetap berjalan 
barangkali ia meringankan beban kepenatan
tanpa harus pusing kemana mencari pelampiasan

ah benar,
rupanya aku sedang enggan,
enggan- suara, arah dan langkahku di atur seseorang


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

About Me

Hey there, I’m Mahya! 👋 I’m a passionate soul navigating life’s adventures one step at a time. A woman who is random, stubborn and sometimes impulsive.

Read More

Recent Post

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Facebook

Blog Archive

  • Agustus 2022 (1)
  • November 2021 (1)
  • Oktober 2021 (1)
  • Februari 2021 (1)
  • September 2020 (7)
  • Agustus 2020 (1)
  • Juli 2020 (5)

Created with by ThemeXpose