• Home
  • About
  • Ruang Bincang
    • Let Me Tell You
    • Ruang Bincang Santai
    • Review
  • Menolak Lupa
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

JURNAL MAHYA

 

Photo by  Zalfa Imani

Amatir - Apa yang bisa dilakukan oleh seorang amatiran sepertiku?

Tak banyak, ia hanya bisa memendam, bertahan kemudian mengaguminya dari kejauhan. Tak pernah punya keberanian untuk memulai, sebab baginya mengejar bukanlah cara terbaik untuk mematahkan perasaan yang telah ia rawat.

Mungkin sebagian orang akan marah, untuk apa merawat perasaan semu untuk seseorang yang memang tak semestinya kau damba? Bukankah itu hanya menambah lara dan juga nestapa.

Entahlah, tentu seseorang punya cara tersendiri untuk mencintai. Dan inilah caraku mencintainya, tak mengusik dan membebani perasaannya, memberi ruang tumbuh bagi cita-cita dan keluarganya, tak  memberi makan ego untuk selalu bersandar dan berharap padanya. 

Tentu, bukan hal yang mudah bagi amatiran ini dihadapkan pada ruang dan waktu yang tidak semestinya. Apalagi dipaksa untuk meluangkan rasa yang sama-sama belum siap untuk saling menjaga sampai tua. 

Bersabarlah, jika sudah saatnya tiba — kita sudah cukup dewasa dan bijaksana, amatiran ini tak akan lagi bersembunyi dibalik bayanganmu, suatu saat ia akan berjalan seiringan disampingmu. 

"Semoga selalu berdampingan dengan kata mampu bagi mereka yang sedang berusaha beranjak dari hal semu."—Adha Buyung


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar







Hai, Juni? Bagaimana kabarnya hati yang terluka, atas duka yang kau tinggal pergi dan tak sempat terobati. Hati yang terlukai sesekali memaksa mengurai senyum, menyiratkan pandangan mata yang sempat jatuh. 

Helaan panjang napas, sempat merindu kehangatan menanti senja bersama. 


Penyesalan tak pernah menjadi begitu baik-baik saja, tak lagi membuat aku kembali percaya. Nada kehidupan tanpanya hanya melukis kesepian, kesendirian telah menutupi sedih dalam gelap dan gerimis

Kini, aku rapuh dalam harap. Jatuh tersungkur menghindari dekap — menjauh supaya tak terjerembap semakin dekat. Kamu bukanlah pundak yang tepat untuk bersandar. Bahkan banyak ceritaku yang enggan kamu dengar. Waktu menunjukkan beberapa rasa telah memudar. Seharusnya aku sadar. Tak ada gunanya beberapa cerita kembali kita putar


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

  




"Tuhan udah menutup aib kita dengan baik. Eh dibuka pas deep talk."


Ngomong-ngomong soal deep talk, aku pernah baca komen di tiktok, isinya tentang penyesalan orang-orang yang pernah deep talk, komennya kurang lebih kayak gini :

👉 deep talk + malem = bongkar aib.

👉  gak, gak mau lagi gue deep talk, kayak dihipnotis, tau-tau oversharing.

👉 makanya jangan mau kalo diajak ngobrol diatas jam 23.59

👉 niat mau ngurangin beban, pas oversharing malah terbebani

👉 apalagi deep talk yang udah lewat tengah malem, rasanya gak sadar kalo udah oversharing, udah sadar langsung menyesal dan overthinking.

👉 emang gak bisa di-rem dan suka kebablasan kalo deep talk. 


Setelah dipikir-pikir, selama deep talk, bukan cuma mereka aja yang sering oversharing kemudian berujung overthinking, tapi aku juga cuy :') Kadang kalau lagi deep talk tengah malem, diri ini tiba-tiba hilang kendali, apa aja dibongkar pokoknya. Sampai aib sendiripun dibongkar, kalau udah kayak gitu serasa kena hipnotis (omongannya ngelantur plus gak bisa mikir). ðŸ˜’


Dulu aku sempet mikir, kalo deep talk itu menyenangkan dan relationship yang dibangun akan lebih bermakna & saling memahami. Kenyataannya, aku yang masih labil seringnya salah memilih partner deep talk, alih-alih deep talk, yang ada malah saling adu nasib, kadang bongkar aib, bukannya menambah kulitas sebuah relationship, eh malah ngebuat partner deep talk kita jadi hilang respect. 


Ngomong-ngomong soal tipe ideal partner deep talk, kalo menurutku ya, bukan cuma "oh aku nyaman ngomong sama dia, ni orang enak nih diajak fafifu wasweswos se-frekuensi lagi. Tapi lebih dari itu dan tak semudah itu." Honestly, saat ini aku belum bisa mendefinisikan secara jelas tipe ideal partner deep talk itu yang seperti apa, tapi mungkin secara sederhananya aku cuma bisa mengatakan partner deep talk yang baik yaitu dia yang mau nerima kita apa adanya dan mau sabar memahami kita.  



Semakin dewasa menurutku deep talk makin sulit untuk dilakukan. Apalagi seseorang yang punya Trust Issue sepertiku. Trust Issue membuat diriku gak bisa sepenuhnya percaya begitu saja pada orang lain. Lagipula setiap manusia itu pasti berubah. Seseorang yang dulu paling nyaman diajak deep talk belum tentu sekarang ia akan menerima dan respect dengan oversharingmu. Orang yang kamu pikir paling memahamimu, mungkin suatu saat ia bukan lagi orang yang seperti itu. 



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Photo by Abigail Faith On Unsplash


Aku yang menentukan pilihan hidupku — supaya tetap bisa bertahan. Inilah alasanku mengapa aku tidak lagi terburu-buru. Meskipun terlihat hanya diam, tetapi kepala terasa berat karena memikirkan dan mengamati dari kejauhan.

Seringkali aku dianggap apatis dan egois — Apapun tuduhan mereka kepadaku. Aku tak akan pernah menelan matang-matang.

Aku enggan lagi menjawab tuduhan konyol tanpa peduli. Harapan kosong sekadar ilusi.

Inilah mengapa aku lebih sering terlihat abai. Karena beberapa pilihan menuntunku menelusuri sebuah jalan yang tak mesti di kagumi orang. Dalam ruang kosong yang hampir tenggelam oleh bualan pencemooh mimpi tanpa memotivasi.

Aku tahu, penawaran mereka tak bermakna. Gampang mencaci tanpa mau tahu rumitnya isi kepala bahkan urusan hidup masing-masing kepala. Apapun itu terserahlah. Terus berkomentar, aku tak mau lagi memusingkan apalagi memperdulikan.

— Amatir, awam..

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Photo by  Chuko Cribb   On Unsplash

Kita adalah sepasang yang sama-sama kesepian. Barangkali lebih tepatnya, sepasang dengan penuh kesunyian.

Kita mungkin kehilangan malam yang penuh hingar bingar sebab asyik merenung dipojok kamar. Nyatanya terangnya malam dan ramainya kota, kini mulai redup cahayanya. Itulah mengapa, aku dan dia tak kemana-mana. Lagipula semua orang dihimbau untuk tinggal di rumah aja, sebab dunia kini sedang tak baik-baik saja. 

Tentang kesepian yang telah kita lewati dengan puluhan senja tanpa romansa, terpasung dingin diujung hening di kamar masing-masing. Mencoba menerjemahkan sunyi, ternyata kita hanyalah sepasang kesepian yang enggan berhenti bernyanyi untuk sembunyikan sepi. Atau mungkin, sepasang kesepian yang sengaja mengeraskan suara tawa tuk sembunyikan luka. Ah mungkin juga, sepasang kesepian yang menyimpan rapat kenangan dipojok jendela kamar.

Aku tahu, kita hanya sepasang yang kesepian—tanpa saling memberi perhatian. Sejak menyadari itu, kini aku mulai belajar untuk memelihara kesepianku dengan baik. Sebab tak ada yang bisa diharapkan dari dua orang, lebih tepatnya sepasang kesepian ini. Mereka sama-sama kesepian, saling bersembunyi dan saling menyembunyikan perasaan.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

     


Akhir-akhir ini beberapa teman datang menghubungiku untuk menumpahkan kekesalan dan kegalauan atas drama-drama dibabak baru kehidupan — usia dua puluhan. Bukannya aku gak sibuk, hanya saja saat ini aku memiliki waktu luang yang sedikit lebih banyak dari mereka.

Aku selalu senang saat mereka datang bertukar cerita atau bahkan hanya sekadar bertukar kabar. Aku selalu siap pasang telinga mendengar setiap kisah yang mereka bagikan. Hingga akhirnya aku mendapat pelajaran bahwa kadang dibalik kehidupan mereka "yang kita anggap senang" sebenarnya banyak hal yang mereka keluhkan. Hanya saja mereka enggan membagikan, semampunya mereka tutupi di belakang layar.

Topik yang kita keluhkan diusia sekarang ternyata cukup melelahkan. Masalah kerjaan dan anak turunannya yang bikin geleng-geleng kepala. Dengerin drama-drama di tempat kerja yang membuka mata tentang realita. Mulai melatih mental supaya kebal terhadap beberapa omongan tetangga — Barangkali begitulah gambaran garis besar yang sering kami perbincangkan diwaktu luang (dijauh-jauh hari sebelum deadline datang). 

Beberapa dari mereka bilang, "perasaan aku terus yang curhat, nanti giliran kamu yang curhat deh. Eh kamu mah gak ada masalah kali yaa.."

Mereka berasumsi, aku yang selow dan terlihat kalem ini tampaknya tak memiliki permasalahan. Lebih tepatnya sejauh ini — "terlihat baik-baik saja."

Terlihat baik-baik saja. Bukan berarti aku tak memiliki masalah dalam hidup. Terkadang dalam beberapa keadaan, akupun ingin menumpahkan kegelisahan yang aku rasakan. Namun lagi dan lagi, banyak hal yang harus aku pertimbangkan. Aku harus memilah dulu mana topik yang pantas aku bagikan atau mana yang sebaiknya aku simpan. Selain itu, aku pribadi lebih nyaman curhat secara tatap muka sebab topik yang dibahas akan mengalir secara deras dan juga tentunya terasa melegakan.

Perihal aku yang terlihat seolah baik-baik saja, dibaliknya aku insomnia. Menulis disetiap jam-jam yang penuh overthinking. Mengumpulkan begitu banyak amunisi yaitu cokelat.

Perihal aku yang terlihat seolah baik-baik saja, mungkin kelihatannya aku sedang berpura-pura. Lagipula hidup adalah panggung sandiwara, yang terlihat bahagia mungkin saja didalamnya ia sedang membalut luka.





Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 


Photo by XPS On Unsplash


Setiap hari begelut dengan angka-angka — yang angka nolnya berjejer rapi berbaris kebelakang, enak dipandang. Menggiurkan, memang. Apalagi jika semua pundi-pundi masuk ke kantong pribadi. Tentu kamu bebas memesan kopi, tanpa perhitungan, tanpa harus menunggu sebulan sekali.

Aku berusaha untuk tidak begitu diperbudak oleh angka, karena dia fana. Bayangkan saja, gaji yang datang di awal bulan, nyatanya mampir hanya sebentar. Selebihnya menguap, terampas biaya bulanan, uang kosan, uang makan. Karena biaya kuliah mahal — sisanya dikirim untuk ibu di kampung halaman.

Bicara soal angka, kepuasan tak akan pernah ada habisnya. Ngikutin tuntutan gaya hidup hanya demi gengsi malah mengundang bayang-bayang lelah yang kian panjang membentang. Alih-alih menyusuri rasa yang bernama puas, kelak ia benar-benar tak bertepi dan tak memiliki sebuah batas. Bahkan sesekali puas berubah menjadi buas, ia akan memusnahkan ketenangan dan kesenangan dalam relung batinmu.

Aku hanya ingin berseru, semoga diri tak dibutakan oleh silaunya sang angka. Tanpa saling mengikat akrab, yang bisa membuatku semakin terjerat. Aku tak ingin berseteru, sikut-menyikut untuk saling menjatuhkan. Tanpa ada yang dibutakan, hingga akhirnya kau benar-benar dipergunakan sesuai yang manusia butuhkan — bermanfaat, bukan atas dasar keegoisan ataupun keserakahan.

— Jkt, (sedang Idealis)

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About Me

About Me

Hey there, I’m Mahya! 👋 I’m a passionate soul navigating life’s adventures one step at a time. A woman who is random, stubborn and sometimes impulsive.

Read More

Recent Post

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Facebook

Blog Archive

  • Agustus 2022 (1)
  • November 2021 (1)
  • Oktober 2021 (1)
  • Februari 2021 (1)
  • September 2020 (7)
  • Agustus 2020 (1)
  • Juli 2020 (5)

Created with by ThemeXpose